| Taman Wisata Alam Bengkulu 80% Gundul | Kawasan hutan Taman Wisata Alam (TWA) di Provinsi Bengkulu kondisinya saat ini sudah sangat memprihatinkan, karena dari luas seluruhnya 15.000 hektare, 80% di antaranya sudah gundul, padahal kawasan hutan itu sangat berguna untuk menopang kelangsungan kelestarian hutan di daerah itu.
Kepala Dinas Kehutanan provinsi Bengkulu Ir Soegito, Jumat, mengatakan, kawasan hutan TWA yang tak terbendung oleh ulah penggarap liar terdapat di kaki Bukit Kaba, Kabupaten Rejang Lebong.
Hutan TWA terbesar terdapat di sekitar kaki Bukit Kaba, namun saat ini kawasan hutan itu sudah beralih fungsi menjadi kebun sayur-mayur dan kebun kopi masyarakat.
Selama ini pihak terkait dari Pemkab Rejang Lebong mengaku kewalahan untuk menghentikan kelompok masyarakat perambah yang berada di sekitar kaki Bukit Kaba tersebut.
Dampak kerusakan hutan wisata alam itu, disamping cuaca pada obyek wisata Bukit Kaba tidak begitu sejuk, jalan menuju puncak bukit tersebut juga sangat mudah longsor, terutama pada musim penghujan.
Selain itu, pemukiman warga perambah di kaki Bukit Kaba itu sewaktu-waktu akan terancam, bila gunung berapi Bukit Kaba yang masih aktif itu mengeluarkan lahar panas maka akan menerpa ladang sayur milik masyarakat di kawasan itu.
Sebelumnya kawasan hutan wisata itu, selain sebagai penyanggah resapan air dan ketahanan tanah, juga diharapkan dapat menahan lahar panas, bila gunung berapi itu sewaktu-waktu aktif atau mengeluarkan lahar.
Penjabat Bupati Rejang Lebong Drs Chairduin, secara terpisah sebelumnya mengatakan, pihaknya akan memprogramkan pengembalian kawasan hutan wisata alam yang sudah terlanjur dirambah warga setempat.
Pihaknya akan mengimbau warga agar meningggalkan lahan setelah habis masa panen sayur-mayur, jika himbauan itu tak diindahkan, pihak Pemkab akan menurunkan tim pengamanan hutan lindung ke lokasi.
Bagi masyarakat yang membandel akan ditangkap dan dikenakan sanki hukum, namun mereka yang secara pribadi dan sukarela meninggalkan lokasi akan dicadangkan untuk ikut program transmigrasi, katanya.
Kepala Dinas Kehutanan provinsi Bengkulu Ir Soegito, Jumat, mengatakan, kawasan hutan TWA yang tak terbendung oleh ulah penggarap liar terdapat di kaki Bukit Kaba, Kabupaten Rejang Lebong.
Hutan TWA terbesar terdapat di sekitar kaki Bukit Kaba, namun saat ini kawasan hutan itu sudah beralih fungsi menjadi kebun sayur-mayur dan kebun kopi masyarakat.
Selama ini pihak terkait dari Pemkab Rejang Lebong mengaku kewalahan untuk menghentikan kelompok masyarakat perambah yang berada di sekitar kaki Bukit Kaba tersebut.
Dampak kerusakan hutan wisata alam itu, disamping cuaca pada obyek wisata Bukit Kaba tidak begitu sejuk, jalan menuju puncak bukit tersebut juga sangat mudah longsor, terutama pada musim penghujan.
Selain itu, pemukiman warga perambah di kaki Bukit Kaba itu sewaktu-waktu akan terancam, bila gunung berapi Bukit Kaba yang masih aktif itu mengeluarkan lahar panas maka akan menerpa ladang sayur milik masyarakat di kawasan itu.
Sebelumnya kawasan hutan wisata itu, selain sebagai penyanggah resapan air dan ketahanan tanah, juga diharapkan dapat menahan lahar panas, bila gunung berapi itu sewaktu-waktu aktif atau mengeluarkan lahar.
Penjabat Bupati Rejang Lebong Drs Chairduin, secara terpisah sebelumnya mengatakan, pihaknya akan memprogramkan pengembalian kawasan hutan wisata alam yang sudah terlanjur dirambah warga setempat.
Pihaknya akan mengimbau warga agar meningggalkan lahan setelah habis masa panen sayur-mayur, jika himbauan itu tak diindahkan, pihak Pemkab akan menurunkan tim pengamanan hutan lindung ke lokasi.
Bagi masyarakat yang membandel akan ditangkap dan dikenakan sanki hukum, namun mereka yang secara pribadi dan sukarela meninggalkan lokasi akan dicadangkan untuk ikut program transmigrasi, katanya.




